Kekaisaran Jerman

Sejarah Berdirinya Kekaisaran Jerman :

Sebelum penyatuan, wilayah yang akan menjadi Kekaisaran Jerman terdiri dari 26 negara yang terdiri dari monarkikerajaankeharyapatihankadipaten, dan kepangeranan dan republik, yaitu kota Hansa merdeka. Seiring dengan terbentuknya kekaisaran, jumlah negara bagian bertambah menjadi satu dengan pencaplokan sebagian wilayah Prancis yang dikenal sebagai Wilayah Kekaisaran Elsaß-Lothringen. Meskipun demikian, jumlah negara bagian kembali menjadi 26 setelah Sachsen-Lauenburg memilih untuk bergabung dengan Prusia; menjadi bagian dari Provinsi Schleswig-Holstein.

Beberapa negara bagian tersebut sempat merdeka setelah pembubaran Kekaisaran Romawi Suci, walau pada kenyataannya, banyak dari mereka telah berdaulat sejak pertengahan 1600-an. Beberapa dari mereka pun baru berdiri setelah Kongres Wina pada 1815. Mengingat banyaknya perang, perpindahan tangan kepemilikan wilayah, dan pembagian warisan wilayah dalam keluarga penguasa yang terjadi sepanjang sejarah, negara-negara bagian kekaisaran tidak selalu memiliki wilayah yang berkelanjutan dan sering kali terdiri dari banyak wilayah kantung maupun wilayah terkelilingi.

Tiap negara bagian setidaknya memiliki seorang perwakilan di Dewan Federal maupun Dewan Kekaisaran. Sebagai negara federal, kekuasaan pusat, termasuk kaisar, terhadap upanegara terbatas. Hal yang sama berlaku dalam hubungan luar negeri. Tiap negara bagian saling membuka kedutaan besar dan bertukar duta besar satu sama lain dan bersama negara asing. Meskipun demikian, sebagian besar urusan dengan negara asing tetap berada di tangan kementerian luar negeri kekaisaran.

Mengenai Kekaisaran Jerman :

Kekaisaran Jerman,[f][4][5][6][7] juga dirujuk sebagai Kaiserreich atau hanya Jerman, adalah Reich Jerman yang berdiri dari Penyatuan Jerman pada 1871 hingga Revolusi November pada 1918 ketika Reich Jerman mengubah dirinya menjadi republik.[8][9][10]

Seiring dengan maraknya nasionalisme pada abad XVIII di Eropa, Permasalahan Jerman mengemuka dan diselesaikan dengan kemenangan Prusia dalam Perang Austria-Prusia yang menjadikan Prusia pemimpin negara-negara Jerman dan mengakibatkan terbentuknya negara kebangsaan Konfederasi Jerman Utara yang terdiri dari negara-negara di utara dan tengah Jerman. Seiring dengan kemunduran Prancis dalam Perang Prancis-Prusia pada 1871, negara-negara Jerman Selatan, kecuali Austria, bergabung dengan Konfederasi Jerman Utara. Lantas, undang-undang dasar baru dirumuskan; mengubah nama negara menjadi Kekaisaran Jerman dan menjadikan Wilhelm IRaja Prusia, dari Wangsa Hohenzollern sebagai Kaisar Jerman.[11] Berlin bertahan sebagai ibu kota negara dan Otto von BismarckPresiden Menteri Prusia, menjadi Kanselir Jerman, sang kepala pemerintahan.

Kekaisaran Jerman adalah kekaisaran federal yang terdiri dari 26 negara bagian, hampir semuanya dipimpin oleh bangsawan. Dari 26 negara bagian tersebut, terdapat empat kerajaan, enam keharyapatihan, lima kadipaten, tujuh kepangeranan, tiga kota Hansa merdeka, dan satu wilayah kekaisaran. Meskipun Prusia hanyalah satu dari ke-26 negara bagian, Prusia mencakup dua pertiga wilayah dan penduduk Jerman. Hal ini melatarbelakangi kedigdayaan Prusia dalam kekaisaran, selain karena kedudukan rajanya sebagai kaisar menurut undang-undang dasar.

Setelah 1850, negara-negara Jerman berindustrialisasi dengan giat, khususnya dalam bidang batu barabesi (nantinya pun baja), kimia, dan perketaapian. Penduduk Jerman yang semula hanya 41 juta jiwa pada 1871 meningkat menjadi 68 juta jiwa pada 1913. Masyarakat Jerman yang awalnya sebagian besar tinggal di perdesaan kebanyakan terurbanisasi.[12] Keberhasilan industrialisasi Jerman ditunjukkan oleh lebih besar dan modernnya pabrik-pabrik Jerman dibandingkan pabrik-pabrik Britania maupun Prancis.[13] Jerman merajai bidang ilmu alam dunia, terutama fisika dan kimia. Sepertiga Penghargaan Nobel dianugerahkan kepada penemu-penemu dan peneliti-peneliti Jerman. Selama berdiri, Kekaisaran Jerman berhasil menjadi raksasa industriteknologi, dan ilmu pengetahuan Eropa dan pada 1913, Jerman menjadi ekonomi terbesar di Eropa Benua dan ketiga terbesar di dunia.[14] Jerman pun dianggap sebagai salah satu negara kekuatan besar. Jerman berhasil membangun jaringan rel terpanjang di Eropa, angkatan darat terkuat di dunia, dan dasar industri yang bertumbuh dengan cepat.[15][16] Meskipun dahulu kecil, angkatan laut Jerman mampu tumbuh menjadi yang terkuat kedua di dunia, hanya setelah Angkatan Laut Kerajaan Britania. Setelah Otto von Bismarck dicabut dari jabatan keperdanamenteriannya oleh Wilhelm II pada 1890, Jerman mencanangkan Weltpolitik, pandangan politik luar negeri baru yang bersumbangsih pada pecahnya Perang Dunia I.

Dari 1871 hingga 1890, masa pemerintahan Otto von Bismarck sebagai kanselir pertama dan terlama dikenali dengan kecondongannya terhadap liberalisme, meskipun pada akhirnya menjadi semakin konservatif. Penataan ulang besar-besaran dan Kulturkampf menjadi dua hal terbesar dalam jabatannya. Meskipun pada awalnya Bismarck menentang penjajahan, Jerman berakhir terlibat dalamnya. Jerman menguasai wilayah-wilayah sisa yang belum diambil dalam Perebutan Afrika. Walaupun demikian, Jerman berhasil membangun imperium penjajahan terbesar ketiga di dunia pada masanya, setelah Britania Raya dan Prancis.[17] Sebagai negara penjajah, Jerman sering kali menghadapi sengketa dengan kuasa-kuasa Eropa lainnya, khususnya Britania. Pada masa perluasan penjajahannya, Kekaisaran Jerman sempat melakukan tindak pembantaian di Herero dan Namaqua.[18]

Penerus Bismarck tidak mampu menjaga hal-hal yang telah diatur sedemikian rupa oleh Bismarck. Jerman semakin bergeser, sering kali membentuk persekutuan yang saling bertumpang tindih dengan negara lain, yang membuat Jerman terpencil secara diplomatis. Masa ini ditandai oleh beberapa sebab, khususnya keputusan kaisar yang sering kali tidak sesuai dengan keinginan rakyat ataupun tidak dapat disangka oleh rakyat. Pada 1879, Kekaisaran Jerman mengencangkan Persekutuan Ganda dengan Austria-Hongaria, kemudian Persekutuan Ganda Tiga dengan Italia pada 1882. Jerman pun menjalin hubungan yang kuat dengan Kesultanan Utsmaniyah. Saat krisis besar terjadi pada 1914, Italia meninggalkan persekutuan dan Utsmaniyah secara resmi bersekutu dengan Jerman.

Pada Perang Dunia I, rencana Jerman untuk merebut Paris dengan cepat pada musim gugur 1914 gagal dan perang di barat remis. Blokade laut oleh Sekutu menyebabkan kekurangan makanan. Meskipun demikian, keberhasilan Jerman di timur berujung dengan Perjanjian Brest-Litovsk. Pernyataan perang kapal selam takterbatas oleh Jerman memicu keikutsertaan Amerika Serikat dalam perang. Setelah Serangan Musim Semi, pada Oktober 1918, tentara Jerman terpukul mundur. Sekutu Jerman, Austria-Hongaria dan Utsmaniyah bubar, sedangkan Bulgaria menyerah. Kekaisaran Jerman pun turut tumbang pada Revolusi November 1918 yang berujung pada penurunan takhta Wilhelm II. Penerus Kekaisaran Jerman, Republik Weimar, diwariskan tatanan masyarakat yang hancur dan pampasan perang senilai 132 mark emas dan penurunan daya militer.[19][20] Kehancuran ekonomi yang diperparah Depresi Besar, termasuk penghinaan dan amarah yang rakyat Jerman rasakan akibat kekalahan ini akan memicu kebangkitan Adolf Hitler dan Nazisme.[21]

Kependudukan :

Sebelum kekaisaran berdiri, Jerman telah mengalami pertumbuhan penduduk dan urbanisasi yang cukup cepat. Setelah kekaisaran terbentuk, kedua hal tersebut bertambah cepat. Pada cacah penduduk pertama yang dilakukan pada 1872, penduduk Jerman berjumlah 40 juta jiwa. Sebelum perang pecah, jumlah penduduk menukik menjadi sebesar 67 juta jiwa. Sepanjang kekaisaran berdiri, jumlah penduduk Jerman meledak sebesar 58 persen, disebabkan oleh peningkatan taraf hidup, khususnya peningkatan harapan hidup dan menerjunnya angka kematian bayi.[22] Meskipun angka kelahiran terus menurun, penurunan angka kematian bayi yang jauh lebih cepat tetap mendongkrak pertumbuhan penduduk.[23]

Perpindahan penduduk sangat kentara di Kekaisaran Jerman dengan sebagian besar masyarakatnya tidak hidup di tempat kelahirannya. Di sisi timur dan tengah negara, pertumbuhan penduduk cenderung jauh lebih lambat dibandingkan bagian negara lainnya. Hal ini disebabkan oleh maraknya urbanisasi yang membuat beberapa kota, seperti DortmundKöln, dan Chemnitz, mampu meningkatkan jumlah penduduknya lebih dari dua kali lipat. Bahkan, Kiel dan Essen mengalami peningkatan jumlah penduduk sebesar lebih dari empat kali lipat. Menurut Cacah Penduduk 1910, tedrdapat 1,26 juta jiwa warga negara asing yang tinggal di Jerman, kebanyakan berasal dari Austria-Hongaria, diikuti oleh BelandaRusia, dan Italia. Sebagian besar dari mereka datang untuk bekerja.[24] Dari antara warga negara asing tersebut, banyak di antara mereka merupakan pekerja asing keturunan Polandia.[25]

Agama :

Katolik Roma merupakan kebanyakan di BayernBadenElsaß-Lothringen, dan beberapa provinsi Prusia (Prusia BaratPosenSilesiaWestfalenRheinland, dan Hohenzollern).[26]

Ekonomi :

Sepanjang kekaisaran berdiri, ekonomi Jerman memiliki kecenderungan untuk tumbuh. Namun, pertumbuhan ekonomi cepat baru terjadi pada tahun 1890-an. Sebelum perang pecah, ekonomi Jerman telah berlipat ganda dibandingkan 30 tahun sebelumnya. Kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi yang cepat pada masa kekaisaran pun ditandai dengan meledaknya penduduk Jerman yang tidak dibarengi penurunan mutu hidup, tetapi dibarengi penyerapan tenaga kerja yang tinggi. Meskipun ketimpangan pendapatan cukup tinggi, keseluruhan warga Jerman mengalami peningkatan mutu hidup yang tinggi.[40]

Sebelum Kekaisaran Jerman berdiri, negara-negara Jerman telah berada dalam tahap industrialisasi. Meskipun demikian, pada 1880-an sebagian besar ekonomi kekaisaran masih ditopang oleh pertanian. Pada 1913, tepat sebelum perang berkecamuk, sumbangsih pertanian, industri, dan layanan secara berututan berada pada kisaran 25%, 45%, dan 30%.[41] Penanaman modal hanyalah sebesar 10 miliar mark pada pendirian kekaisaran, tetapi meningkat menjadi 85 miliar mark sebelum perang.[42]

Jerman adalah salah satu negara dagang terbesar di dunia. Ekspor meningkat dari 2,9 miliar mark pada 1890 menjadi 5,4 miliar mark pada 1913. Setengah dari barang yang Jerman ekspor merupakan barang jadi. Meskipun demikian, ekspor Jerman yang besar disertai impor yang lebih besar lagi. Alhasil, sepanjang berdirinya kekaisaran, neraca perdagangan Jerman kebanyakan negatif.[43]

Industri :

Kekaisaran Jerman memiliki salah satu kekuatan industri terbesar di dunia pada zamannya. Sepanjang kekaisaran berdiri, industri tumbuh di kisaran angka 4% tiap tahun, kecuali pada masa Depresi Besar (1873–1890)[h] yang membatasi pertumbuhan hanya di kisaran angka 3%. Dalam 30 tahun, produksi batu bara Jerman meningkat empat kali lipat; menjadikan Jerman produsen batu bara terbesar ketiga di dunia, di belakang Britania Raya (BR) dan Amerika Serikat (AS). Sementara itu, produksi besi dan bajanya menjadi yang terbesar kedua di dunia, hanya di belakang AS.[44]

Kekaisaran Jerman merupakan pemimpin industri kimia dunia. Dengan rata-rata pertumbuhan sektor kimia sebesar 6% tiap tahun, 12 dari 100 usaha terbesar Jerman bergerak dalam bidang kimia. Jerman menjadi pemimpin industri kimia organik dunia, khususnya dalam bidang pewarna dan obat-obatan, dan menghasilkan 90% pewarna di dunia pada 1900.[42]

Peta & Daftar Kekaisaran Jerman :

Kaisar Jerman :

Kaisar Jerman (bahasa JermanDeutscher Kaiser) adalah gelar resmi dari kepala negara Kekaisaran Jerman (bahasa JermanDeutsches Kaiserreich) dari tahun 1871 hingga 1918. Selama kurun waktu itu terdapat tiga orang yang memegang gelar ini, yaitu Wilhelm IFrederick III dan Wilhelm II. Gelar ini belum dipakai sebelumnya. Penguasa-penguasa Kekaisaran Romawi Suci Bangsa Jerman memang disebut sebagai Raja-raja Jerman (deutsche Könige) tetapi bukan sebagai kaisar-kaisar Jerman (Deutsche Kaiser), melainkan disebut dan dipahami sebagai kaisar Romawi-Jerman (Römisch-deutscher Kaiser).

Istilah Kekaisaran Jerman :

Istilah Kekaisaran Jerman (Deutsches Kaiserreich) umumnya merujuk kepada Jerman dari konsolidasinya untuk sebuah negara bersatu semenjak kemenangan koalisi Konfederasi Jerman Utara dengan negara-negara Jerman selatan (dimotori Kerajaan Baden, Kerajaan Württemberg, dan Kerajaan Bayern) atas Perancis dalam Perang Perancis-Jerman, 18 Januari 1871, hingga turun takhtanya Kaiser (KaisarWilhelm II pada 9 November 1918. Warga Jerman, ketika merujuk kepada Reich pada masa kekuasaan Kaisar ini, pada umumnya menggunakan istilah Kaiserreich dan istilah ini sudah sering dipergunakan oleh sejarawan-sejarawan non-Jerman.

Semenjak rezim inilah untuk pertama kalinya nama “Jerman” dipakai dalam pengertian modern yang sesungguhnya.

From Wikipedia

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai